Rawwrrrr #1
Rawwrrrr #2
Sari: “Iya, aku ngerti. Tapi maaf banget Jon, aku nggak bisa jadi pacar kamu.”
Joni: “Tapi aku butuh orang seperti kamu, kamu tuh terlalu sempurna bagi aku.”
Sari: “Jon, kamu terlalu berlebihan. Aku nggak seperti yang kamu pikirkan. Kita masih bisa sahabatan kok.”
Lisa: “Hei, kamu lagi di rumah nggak?”
Sari: “Iya nih, aku baru aja bangun tidur. Emang kamu lagi di mana?”
Lisa: “Aku abis dari toko buku, sekarang posisi aku lagi deket-deket rumah kamu nih. Aku mampir ke rumah kamu ya?”
Sari: “Hah? Kamu sama siapa?”
Lisa: “Aku sendirian. Gimana? Boleh kan?”
Sari: “Hmmm Yaa boleh kok sayang. Yaudah, hat-hati yaa.”
Lisa: “Asiik. Oke cinta. See you. Mmuaach!”
Lisa: (Mengetuk pintu) “Sariii. Aku di depan nih.”
Sari: (Dengan sambil membawa handuk Sari segera membukakan pintu) “Heeii. Cantik banget sih.”
Lisa: “Hehe makasiiihh. Kamu abis mandi?”
Sari: “Ini malah baru mau mandi. Hehe. Yaudah yuk, masuk.”
Lisa: “Hmm kamarnya bagus, tapi kok agak berantakan yaa. Hehe.”
Sari: “Hehe aku lagi males beres-beres. Eh, katanya abis dari toko buku? Beli buku apa?”
Lisa: “Ih, dasar. Hehe. Oh iya, ini aku abis beli buku psikologi, buat referensi. Tapi nggak tau deh nanti kebaca apa nggak. Hehe.”
Sari: “Haha. Aku juga banyak tuh buku-buku dan selalu aku baca.”
Lisa: “Hehe. Eh, yaudah kamu mandi dulu gih. Aku tungguin sambil beres-beres kamar kamu."
Sari: “Iiihh nggak usah, biar nanti aku aja yang beresin sendiri.”
Lisa: “Santai aja, Sari. Kamu mandi dulu aja gih.”
Sari: “Lisaa, serius, nggak usah. Kamu duduk tenang aja di sini. Oke?”
Lisa: “Nggak mau, kalo kamar kamu rapih kan akunya jadi betah lama-lama di kamar kamu.”
Sari: “Hmmm.”
Sari: “Heeii. Udah selesai?”
Lisa: (kaget) (sambil menutup laci) “Uu..udah kok, raa..rapih kan?”
Sari: (sambil melihat sekeliling kamar) “Eh, gimana penampilan aku?”
Lisa: “Bagus, aku suka.”
Sari: “Liis kamu di mana? Mati listrik nih.”
Lisa: “....” (diam, tak menjawab, mencoba menghentikan tangisnya)
Sari: “Lissaaa! Kamu di mana!? Jangan lama-lama dong di kamar mandinya!”
Lisa: (akhirnya menjawab dengan nada suara yang agak tenang) Aku masih di kamar mandi.
“Mati listrik ya? Atau cuma njegleg?”
Sari: “...” (tidak menjawab)
Lisa: (mulai panik lagi) “Sarii! Kamu di mana?”
“Saarr?”
“Sarriii?!” (semakin panik)
Sari: “Heii. Aku di sini.”
Lisa: (kaget) “Ee... uu.. udah nyala lagi lampunya?”
Sari: (dengan nada suara datar) “Iya, ternyata tadi listriknya njegleg. Yaudah yuuk.”
Lisa: “O, iyaa.”
Sari: “Kamu ngapain di depan kamar? Sini masuk.”
Lisa: “Eh, bentar. Kayaknya ada yang ketinggalan di kamar mandi.”
Sari: “Yaudah sih nggak papa, nggak bakal ilang kok. Sini Masuk.”
Lisa: “Bentar, aku ambil dulu deh.”
Sari: “Ketemu? Apa yang ketinggalan?”
Lisa: “Kok handphone aku nggak ada ya?”
Sari: “Lho, ini handphone kamu.” (sambil memberikan handphone ke Lisa)
Lisa: “.....” (Ia bingung, kok handphonenya bisa ditangan Sari? Ternyata ia lupa kalau tadi ia tidak membawa handphonenya ke kamar mandi.)
Sari: (dengan nada suara datar) “Kamu nggak usah takut gitu. Aku tahu apa yang ada di dalam pikiran kamu."
Lisa: (tersentak kaget) “Hah? Maksud kamu apa?”
Sari: “Hmm kamu sayang sama aku kan?”
Lisa: “Eee.. Iyaa.. Terus?”
Sari: "Aku tahu kamu pasti pengen tahu lebih jauh tentang aku. Oke, aku mau jujur ke kamu."
Lisa: (sedikit berpura-pura) “Hmm jujur tentang apa?”
Sari: “Lisaa, please deh. Nggak usah pura-pura, gitu. Aku mau ceritain yang sebenernya ke kamu. Mau dengerin kan?”
Lisa: “Hah?”
Sari: “Hmm jadi gini ceritanya, Lisaku sayang...”
Lisa: “Ya ampuun, Sari, cuma karena rasa dendam akal sehat kamu jadi hilang dan kamu harus membunuh mereka? Kamu udah gila, Sari! Kamu psikopat!” (Lisa mulai menjauh dari Sari dan bersiap-siap untuk mengambil pisau yang ia selipkan di belakang punggungnya)
Sari: (sambil menangis sesegukan) “Lisa, kamu jangan berprasangka buruk dulu tentang aku. Semua ini gara-gara ibu tiriku. Aku nggak terima, aku sudah tersakiti banget.”
Lisa: (merasa simpatik dan prihatin dengan Sari) “Tapi kenapa harus kayak gitu solusinya, Sari? Semua masalah pasti bisa diselesaikan dengan baik-baik. Nggak harus dengan cara membunuh.” (diurungkan niatnya mengambil pisau)
Sari: (merasa mangsanya mulai terpancing) “Iya, aku tahu. Tapi aku udah nggak bisa lagi membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Semua ini gara-gara ibu tiriku, Lisa. Aku jadi kayak gini gara-gara dia.” (kembali menangis sesegukan dan berusaha untuk memeluk Lisa)
Lisa: (mulai percaya dengan Sari dan dengan terpaksa menerima pelukan Sari, diurungkan niatnya mengambil pisau) “Iya, aku ngerti. Tapi kamu jangan kayak gitu lagi. Aku tahu kamu tuh perempuan baik. Kamu harus berubah, Sari. Demi kamu sendiri, dan juga demi aku. ”
Sari: “Maafin aku ya, Lisa. Maaf banget.”
Lisa: “Sari? Kamu kenapa? Lepasin aku! Sarii? Lepasiinn!”Sari tak berkata apa-apa, cengkramannya semakin kuat. Lisa mencoba untuk mendorong Sari namun hanya tangan kirinya yang bisa menahan dorongan Sari, Lisa menahan badan Sari dengan tangan kirinya, mencoba berontak.
Sari: (dengan senyuman sinis dan tertawa jahat) “Ha ha ha. Lisaa, Lisaa. Perempuan bodoh, tidak berguna. Ha ha ha.”Lisa tidak bisa berkata-kata lagi, tenaganya mulai habis. Ketakutannya muncul kembali, ia takut jadi korban Sari yang berikutnya. Lisa masih mencoba untuk berontak, ia berusaha mengambil pisau dari belakang punggungnya. Setelah harus bersusah payah akhirnya pisau sudah di genggaman tanggannya. Berusaha mengumpulkan tenaga, Lisa berontak sambil melayangkan pisau yang ia genggam ke arah Sari. Lengan Sari tergores, seketika cengkramannya melemah, amarahnya semakin membara. Lisa lepas dari cengkraman sari namun ia masih berada di atas kasur. Lisa terduduk di sudut kasur sambil mengacungkan pisau ke arah Sari. Dengan tenang Sari mendekati Lisa, Lisa panik dan mencoba melayangkan kembali pisau ke arah Sari. Tangan Lisa terhenti, Sari mencengkram tangan Lisa dan berusaha menjatuhkan pisau dari genggaman Lisa. Lisa nampak kesakitan, tangan kirinya berusaha untuk memukul Sari namun sayang serangannya masih bisa ditahan Sari. Pisau terjatuh dari tangan Lisa. Dengan sekuat tenaga Sari mendorong Lisa hingga terjatuh di atas kasur. Lisa berusaha untuk bangun, Sari langsung menindihnya.
Sari: “Ha ha ha. Kamu nggak bisa apa-apa lagi, Lisa. Kamu harus mati!”
Lisa: “Sarii, please jangan bunuh aku. Aku minta maaf kalo aku salah. Kita bisa selesain ini dengan baik-baik, Sari.”
Sari: “Ha ha ha.”
Lisa: “Saarrr....”Sari membekap Lisa dengan bantal. Lisa terus berteriak dari balik bantal, bekapan Sari semakin kuat. Tangan kirin Sari terus membekap muka Lisa, tubuhnya terus menindih perut Lisa. Lisa semakin terkulai lemas, teriakannya mulai hilang, nafasnya hampir habis, sudah tak bertenaga dan tak bisa berontak lagi. Sari mengambil pisau yang tadi terjatuh, dengan nikmatnya ia menusukkan pisu tersebut ke leher Lisa. Tubuh Lisa mengejang, menggeliat, suaranya hilang, darah segar keluar dari lehernya. Tubuh Lisa sudah tak bergerak lagi, Lisa mati di kamar Sari. Sari bangun dari tempat tidur sambil tersenyum sinis. Pisau ia letakkan di dalam laci, tubuh Lisa yang sudah tak bernyawa dipindahkan ke depan pintu, digeletakkan, Sari memegang kaki Lisa, ia menyeret mayat Lisa ke tempat ia biasa menyimpan mayat korbannya, di belakang rumah.