Oleh Nain Ghzl:
Sari: “Iya, aku ngerti. Tapi maaf banget Jon, aku
nggak bisa jadi pacar kamu.”
Joni: “Tapi aku butuh orang seperti kamu, kamu
tuh terlalu sempurna bagi aku.”
Sari: “Jon, kamu terlalu berlebihan. Aku nggak
seperti yang kamu pikirkan. Kita masih bisa sahabatan kok.”
Sari menggenggam
tangan Joni sambil tersenyum manis, tanpa sepatah kata Sari meninggalkan
Joni yang tertunduk lesu. Sari melenggang dengan indahnya, meninggalkan Joni
dengan bijaksana, di kafe favoritenya.
Sari, mahasiswi kedokteran semester akhir di salah satu perguruan tinggi negeri di kotanya. Wajahnya manis, supel, misterius, pintar, pernah belajar karate. Tidak hanya pria yang mengagumiya, kaum perempuan pun banyak yang tergoda dengan pesonanya, sayangnya ia tidak terlalu suka menjalin hubungan atau berpacaran dengan seorang pria.
Ringtone
handphone berbunyi, Sari terbangun dari tidurnya yang cukup pulas. Dengan mata masih
terpejam ia mengangkat panggilan itu. Suara perempuan terdengar manja di ujung sana, Lisa menelpon Sari.
Lisa: “Hei, kamu lagi di rumah nggak?”
Sari: “Iya nih, aku baru aja bangun tidur. Emang kamu lagi di mana?”
Lisa: “Aku abis dari toko buku, sekarang posisi aku lagi deket-deket rumah kamu nih. Aku mampir ke rumah kamu ya?”
Sari: “Hah? Kamu sama siapa?”
Lisa: “Aku sendirian. Gimana? Boleh kan?”
Sari: “Hmmm Yaa boleh kok sayang. Yaudah, hat-hati yaa.”
Lisa: “Asiik. Oke cinta. See you. Mmuaach!”
Sari nampak kebingungan, ia kaget kekasihnya ingin datang ke rumahnya, biasanya ia yang mengajak langsung mantan-mantan kekasihnya untuk datang ke rumahnya. “Hmm.. Hah? Jam 3 sore?!”, ia mengutuk dirinya sendiri yang tidur terlalu pulas.
Lisa adalah seorang mahasiswi baru jurusan psikologi di salah satu perguruan tinggi swasta di kotanya. Ia perempuan yang polos, periang, selalu ingin tahu dan penasaran, sedikit manja, mudah percaya dengan orang lain, labil, sensitif. Lisa baru mengenal Sari beberapa minggu lalu di sebuah kafe dan sekarang mereka sudah menjalin kasih, menjadi pasangan sejenis.
Lisa pun
tiba, ia berjalan menuju pintu rumah Sari.
Lisa: (Mengetuk pintu) “Sariii. Aku di depan nih.”
Sari: (Dengan sambil membawa handuk Sari
segera membukakan pintu) “Heeii. Cantik banget sih.”
Lisa: “Hehe makasiiihh. Kamu abis mandi?”
Sari: “Ini malah baru mau mandi. Hehe. Yaudah yuk, masuk.”
Setelah
melakukan 'upacara penyambutan' (berpelukan sambil cipika-cipiki) mereka segera
menuju kamar Sari.
Lisa: “Hmm kamarnya bagus, tapi kok agak berantakan yaa. Hehe.”
Sari: “Hehe aku lagi males beres-beres. Eh, katanya abis dari toko buku? Beli buku apa?”
Lisa: “Ih, dasar. Hehe. Oh iya, ini aku abis beli buku psikologi, buat referensi. Tapi nggak tau deh nanti kebaca apa nggak. Hehe.”
Sari: “Haha. Aku juga banyak tuh buku-buku dan selalu aku baca.”
Lisa: “Hehe. Eh, yaudah kamu mandi dulu gih. Aku tungguin sambil beres-beres kamar kamu."
Sari: “Iiihh nggak usah, biar nanti aku aja yang
beresin sendiri.”
Lisa: “Santai aja, Sari. Kamu mandi dulu aja
gih.”
Sari: “Lisaa, serius, nggak usah. Kamu duduk
tenang aja di sini. Oke?”
Lisa: “Nggak mau, kalo kamar kamu rapih kan
akunya jadi betah lama-lama di kamar kamu.”
Sari: “Hmmm.”
Sari tidak
bisa menolak Lisa, tapi ia merasa ketakutan. Takut ketahuan. Buru-buru ia ke
kamar mandi untuk menyegarkan dan memepercantik dirinya.
Satu per
satu barang mulai tertata rapi, Lisa semakin semangat merapihkan kamar Sari. Ia menemukan beberapa botol berisi cairan aneh, “Oh, mungkin ini buat tugas kuliah”, pikirnya, ia pun segera merapikannya. Buku-buku pun sudah tertata
rapih, kemudain lemari. Karena penasaran dan selalu ingin tahu Lisa pun mencoba membuka salah satu laci lemari, “Hmm kira-kira ada apa ya di dalam sini? Hehe.”, pikirnya. setelah dibuka, Lisa kaget,
ia hampir terjatuh. Diperhatikan dengan seksama, ada sepotong tangan di dalam sana, masih ada darahnya yang
sudah mulai mengering. Lisa ketakutan, ingin teriak tapi ia urungkan. “Ada apa ini? Apa yang
terjadi? Untuk apa potongan tangan manusia itu? Ada apa dengan
Sari? Oh, apa mungkin itu properti kuliahnya? Tapi kok serem ya?” Berbagai macam pertanyaan penasaran menjejali benak Lisa. Ia segera
membereskan kamar Sari dengan panik dan tergesa-gesa.
Saat ingin
menutup laci tempat potongan tangan yang tadi, tiba-tiba dari belakang Sari menepuk pundak
Lisa.
Sari: “Heeii. Udah selesai?”
Lisa: (kaget) (sambil menutup laci) “Uu..udah
kok, raa..rapih kan?”
Sari: (sambil melihat sekeliling kamar) “Eh,
gimana penampilan aku?”
Lisa: “Bagus, aku suka.”
Sari memulai
untuk merias diri, Lisa nampak ketakutan di atas kasur. Lisa ingin menanyakan ke Sari tentang apa yang ia temukan di kamar Sari, tapi ia urungkan. Ia takut, panik
dan bingung harus berbuat apa. Lisa memeperhatikan Wajah Sari di meja rias, Sari
nampak tenang dan senang. Ketika sari ingin membuka obrolan dengan Lisa
tiba-tiba Lisa langsung berkata ke Sari kalau ia ingin ke kamar mandi. Lisa
dengan agak terburu-buru keluar kamar Sari dan langsung menuju kamar mandi.
Belum sampai kamar mandi, Lisa tanpa sengaja terjatuh. Ia tersungkur, kakinya
tersandung sesuatu. Setelah dilihat, ternyata Lisa tersandung tangan seorang
mayat perempuan. Mayat itu dihiasi luka-luka bekas tusukan, masih nampak segar sesegar darah yang melumuri tubuh
dingin tak bernyawa itu. Lisa menangis sesegukan.
Lisa langsung masuk
kamar mandi. “Kok ada mayat segala? Masa iya mayat ini properti kuliahnya Sari? Atau jangan-jangan Sari?? Ah nggak mungkin! Tapi kok Sari nggak cerita-cerita ke aku? Ada apa ini sebenarnya?” Pertanyaan-pertanyaan penasaran kembali menjejali pikiran Lisa, ia curiga, ia semakin gelisah. Saat ia berusaha untuk tenang dan mengendalikan situasi tiba-tiba listrik
mati, semua lampu yang ada di rumah Sari padam. Kamar mandi gelap.
Sari: “Liis kamu di mana? Mati listrik nih.”
Lisa: “....” (diam, tak menjawab, mencoba
menghentikan tangisnya)
Sari: “Lissaaa! Kamu di mana!? Jangan lama-lama
dong di kamar mandinya!”
Lisa: (akhirnya
menjawab dengan nada suara yang agak tenang) Aku masih di kamar mandi.
“Mati listrik ya? Atau cuma njegleg?”
Sari: “...” (tidak menjawab)
Lisa: (mulai panik lagi) “Sarii! Kamu di mana?”
“Saarr?”
“Sarriii?!” (semakin panik)
Lampu mulai
menyala lagi dan tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.
Sari: “Heii. Aku di sini.”
Lisa: (kaget) “Ee... uu.. udah nyala lagi
lampunya?”
Sari: (dengan
nada suara datar) “Iya, ternyata tadi listriknya njegleg. Yaudah yuuk.”
Lisa: “O, iyaa.”
Sari jalan
lebih dulu dan Lisa mengikuti di belakangnya, setelah melewati tempat ia tadi
tersungkur ternyata sudah tidak ada mayat perempuan di sana. Lisa bingung dan
semakin panik. “Kemana mayat yang tadi? Nggak mungkin kalo tadi aku cuma
bermimpi atau berhalusinasi. Sari kemana mayat perempuan itu? Sebenarnya kamu tuh siapa Sari?”, batin Lisa.
Sampai di
depan kamar Sari, Lisa ragu untuk masuk. Ia takut.
Sari: “Kamu ngapain di depan kamar? Sini masuk.”
Lisa: “Eh, bentar. Kayaknya ada yang ketinggalan
di kamar mandi.”
Sari: “Yaudah sih nggak papa, nggak bakal ilang
kok. Sini Masuk.”
Lisa: “Bentar, aku ambil dulu deh.”
Ternyata
Lisa tidak ke kamar mandi, ia malah menuju pintu utama rumah. Ia berusaha ingin
kabur, namun sayang pintu terkunci, jendela rapat sekali, tidak ada celah sama sekali. Lisa semakin
kebingungan, ia terkurung di rumah Sari yang menyeramkan. Sambil mengontrol diri, ia berfikir kalau ia harus menemukan sesuatu untuk berjaga-jaga agar tidak terjadi apa-apa dengan dirinya. Akhirnya ia menemukan pisau di dapur kemudain ia taruh di belakang punggungnya. Setelah merasa cukup siap dan berani menghadapi situasi tersebut Lisa pun memberanikan diri untuk masuk kamar Sari.
Sari: “Ketemu? Apa yang ketinggalan?”
Lisa: “Kok handphone aku nggak ada ya?”
Sari: “Lho, ini handphone kamu.” (sambil
memberikan handphone ke Lisa)
Lisa: “.....” (Ia bingung, kok handphonenya bisa
ditangan Sari? Ternyata ia lupa kalau tadi ia tidak membawa handphonenya ke kamar mandi.)
Sari duduk
di depan meja rias sambil sedikit merias wajahnya. Lisa duduk di atas kasur sambil memperhatikan wajah Sari di cermin. Sari nampak tenang dan indah. Merasa diperhatikan, tiba-tiba Sari menghampiri Lisa, mereka
duduk bersebelahan. Lisa kaget dan mencoba menghindar.
Sari: (dengan nada suara datar) “Kamu nggak usah takut gitu. Aku tahu apa yang ada di dalam pikiran kamu."
Lisa: (tersentak
kaget) “Hah? Maksud kamu apa?”
Sari: “Hmm
kamu sayang sama aku kan?”
Lisa: “Eee..
Iyaa.. Terus?”
Sari: "Aku tahu kamu pasti pengen tahu lebih jauh tentang aku. Oke, aku mau jujur ke kamu."
Lisa: (sedikit
berpura-pura) “Hmm jujur tentang apa?”
Sari: “Lisaa,
please deh. Nggak usah pura-pura, gitu. Aku mau ceritain yang sebenernya ke
kamu. Mau dengerin kan?”
Lisa: “Hah?”
Sari: “Hmm
jadi gini ceritanya, Lisaku sayang...”
Sari
menceritakan mengenai apa yang dialami Lisa barusan di rumahnya. Sari ternyata
sudah membunuh 2 orang perempuan di rumah ini. Mayat yang ada di dekat kamar
mandi adalah perempuan kedua. Mereka adalah mantan kekasih Sari. Ia
menceritakan ke Lisa alasan ia membunuh dua perempuan itu. Berdasarkan masa
lalunya bahwa ia adalah seorang anak yang ‘menderita’. Ibu kandungnya
meninggalkannya entah ke mana sejak ia masih balita. Ayahnya menikahi seorang
wanita yang menjadi ibu tirinya. Belum lama rumah tangga baru mereka terjalin,
ayahnya meninggal dunia. Akhirnya ia hanya hidup berdua dengan ibu tirinya. Ibu
tirinya depresei, hampir frustrasi. Sebenarnya ibu tirinya sangat tidak
menyukai Sari, sering kali ibu tirinya melecehkannya hingga bertindak kasar
terhadap Sari. Setelah ayah kandungnya meninggal dunia tak jarang tubuh Sari
lecet-lecet/luka-luka karena ibu tirinya. Bagi ibu tirinya Sari hanyalah
pembawa sial. Sari menjadi korban pelampiasan ibu tirinya yang hampir gila.
Di saat
keadaan semakin membuat Sari muak, akhirnya Sari nekat membunuh ibu tirinya. Ia
pergi meninggalkan tempat tinggalnya, ia memilih hidup sendiri. Sejak kejadian
itu ia mulai sangat membenci perempuan. Ia menyimpan dendam terhadap perempuan,
siapa pun itu.
Lisa: “Ya
ampuun, Sari, cuma karena rasa dendam akal sehat kamu jadi hilang dan kamu harus membunuh mereka? Kamu udah gila, Sari! Kamu psikopat!” (Lisa mulai menjauh dari Sari dan bersiap-siap untuk mengambil pisau yang ia selipkan di belakang punggungnya)
Sari: (sambil
menangis sesegukan) “Lisa, kamu jangan berprasangka buruk dulu tentang aku. Semua ini gara-gara ibu tiriku. Aku nggak terima, aku sudah tersakiti banget.”
Lisa: (merasa simpatik dan prihatin dengan Sari) “Tapi kenapa harus kayak gitu solusinya, Sari? Semua masalah pasti bisa diselesaikan dengan baik-baik. Nggak harus dengan cara membunuh.” (diurungkan niatnya mengambil pisau)
Sari: (merasa mangsanya mulai terpancing) “Iya, aku tahu. Tapi aku udah nggak bisa lagi membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Semua ini gara-gara ibu tiriku, Lisa. Aku jadi kayak gini gara-gara dia.” (kembali menangis sesegukan dan berusaha untuk memeluk Lisa)
Lisa: (mulai percaya dengan Sari dan dengan
terpaksa menerima pelukan Sari, diurungkan niatnya mengambil pisau) “Iya, aku ngerti. Tapi kamu jangan kayak gitu lagi.
Aku tahu kamu tuh perempuan baik. Kamu harus berubah, Sari. Demi
kamu sendiri, dan juga demi aku. ”
Sari: “Maafin
aku ya, Lisa. Maaf banget.”
Sari merasa jebakannya sudah berhasil, “Mudah sekali perempuan ini dibohongi. Ha ha.”, batinnya. Lisa mulai terhanyut dengan keadaan sendu itu. “Umpan sudah dimakan, sekarang giliran aku yang memakan.”, picik Sari. Pelan-pelan tangan Sari meraba pundak Lisa, menuju lehernya. Lisa merasa nyaman dan terbuai. Pelan pelan tangan Sari menjelajahi leher Lisa. Lisa sangat menikmati belaian Sari, Lisa mulai lunglai. Merasa waktunya sudah tepat, Sari langsung mencekik leher Lisa. Lisa kaget, Sari mendorongnya ke atas kasur dengan tangan masih mencengkram leher Lisa.
Lisa: “Sari? Kamu kenapa? Lepasin aku! Sarii? Lepasiinn!”
Sari tak berkata apa-apa, cengkramannya semakin kuat. Lisa mencoba untuk mendorong Sari namun hanya tangan kirinya yang bisa menahan dorongan Sari, Lisa menahan badan Sari dengan tangan kirinya, mencoba berontak.
Sari: (dengan senyuman sinis dan tertawa jahat) “Ha ha ha. Lisaa, Lisaa. Perempuan bodoh, tidak berguna. Ha ha ha.”
Lisa tidak bisa berkata-kata lagi, tenaganya mulai habis. Ketakutannya muncul kembali, ia takut jadi korban Sari yang berikutnya. Lisa masih mencoba untuk berontak, ia berusaha mengambil pisau dari belakang punggungnya. Setelah harus bersusah payah akhirnya pisau sudah di genggaman tanggannya. Berusaha mengumpulkan tenaga, Lisa berontak sambil melayangkan pisau yang ia genggam ke arah Sari. Lengan Sari tergores, seketika cengkramannya melemah, amarahnya semakin membara. Lisa lepas dari cengkraman sari namun ia masih berada di atas kasur. Lisa terduduk di sudut kasur sambil mengacungkan pisau ke arah Sari. Dengan tenang Sari mendekati Lisa, Lisa panik dan mencoba melayangkan kembali pisau ke arah Sari. Tangan Lisa terhenti, Sari mencengkram tangan Lisa dan berusaha menjatuhkan pisau dari genggaman Lisa. Lisa nampak kesakitan, tangan kirinya berusaha untuk memukul Sari namun sayang serangannya masih bisa ditahan Sari. Pisau terjatuh dari tangan Lisa. Dengan sekuat tenaga Sari mendorong Lisa hingga terjatuh di atas kasur. Lisa berusaha untuk bangun, Sari langsung menindihnya.
Sari: “Ha ha ha. Kamu nggak bisa apa-apa lagi, Lisa. Kamu harus mati!”
Lisa: “Sarii, please jangan bunuh aku. Aku minta maaf kalo aku salah. Kita bisa selesain ini dengan baik-baik, Sari.”
Sari: “Ha ha ha.”
Lisa: “Saarrr....”
Sari membekap Lisa dengan bantal. Lisa terus berteriak dari balik bantal, bekapan Sari semakin kuat. Tangan kirin Sari terus membekap muka
Lisa, tubuhnya terus menindih perut Lisa. Lisa semakin terkulai lemas, teriakannya mulai hilang, nafasnya hampir habis, sudah tak bertenaga dan tak bisa berontak lagi. Sari mengambil pisau yang tadi terjatuh, dengan nikmatnya ia menusukkan pisu tersebut ke leher Lisa.
Tubuh Lisa mengejang, menggeliat, suaranya hilang, darah segar keluar dari
lehernya. Tubuh Lisa sudah tak bergerak lagi, Lisa mati di kamar Sari. Sari bangun dari tempat tidur sambil tersenyum sinis. Pisau ia letakkan di dalam laci, tubuh Lisa yang sudah tak bernyawa dipindahkan ke depan pintu, digeletakkan, Sari memegang kaki Lisa, ia menyeret mayat Lisa ke tempat ia biasa menyimpan mayat korbannya, di belakang rumah.